Rabu, 05 November 2008

Nyanyian luka

Di kebisuan kuterhenti sebagai mayat tanpa kafan
sesal penuh nyanyian-nyanyian pekat, memburu...
menghempas waktu memahat aroma-aroma ketiadaan

sehabis kata kulepas gairahku, menandakan
perhentian. bukanlah suara malaikat,tepi kebisuan
menemani pagi seolah hari tidak ada siang
mengalir mengikuti air
walau kadang membawanya ketepian jurang

sudahlah...!kicauan burungpun hanya kicauan
orang-orang mati entah sebagai tanda atau......

seperti kataku tak ada suara saat gelisa menjadi raja
atau kepalsuan menjadi sesuatu yang baku
hanya karena suara yang tak ingin mulutnya terluka!

swwaktu kecil kita terbata-bata mengucap alif seperti angka satu
mulit pun terbuka karena tetap satu. taring pun seakan beradu
melawan pacahan badai dan dan gelombang
tetapi itu dulu!

busa di mulut kita terhentikan waktu, saat kepalsuan
menorehkan kebisuan,
menari-nari dalam tulisan palsu
sampai kubacakan "sajak palsu"

kali ini SUDAHLAH.....suara kita terlalu sesak dengan asap
wajah kitapun terbaur cahaya nan indah berselimut topeng