jika kau nyanyikan embun
sebagai titik bening menggantung diujung daun
waktulah bakal menyingsing panas
embun itupun jatuh dan luluh dilembab tanah saat
itulah kita mesti B E R P I S A H
menyusuri gaib nasib sambil menitip
badai dipakaian, pada sebuah
persimpangan S E L A M A T J A L A N , meski kata
penghabisan masih kusimpan
seperti memerah hujan dari mataku menyembilu
akulah! akulah HAJAR itu
saat KAU IBRAHIM menitipku pada angin
di lembah tak bernama dan bayi keriduan kita
gersang menangisi cuaca kirimkan do’a dari
kejauhan
bersampul salam dan takzim kesabaran
biar kutak jatuh seperti anak-anak rambutmu
mencintai terjal kening; dibawah, telaga matamu
bening
biar tak ku gali sepetak tanah: seliang lembab
tempat kubaring segenap senyap yang mati harap
barang kali dipergabung kan subuh ini:
tubuh mu mulai terbagi pada redup kenangan
dan separuhnya bahtera pelaminan segera
dilayarkan
S E L A M A T J A L A N biar kukayuh cahaya tempat kita
pernah
mengasu senja dan merah cakrawala
sebagai sekulum senyum retak merelakan hari
berlari dan mengerti: semua bakal kembal
kejantung rahasia



