..
Aku masih di permukaan lautmuItupun karena mereka mendorong sampanku,Agar berada disitu.
Yang tampak bagiku,Hanya riak yang hampir tenang beradu semu. Sementara mereka yg berdiri di pantaimuMenaruh harap agar aku tak raguMenyelam menikmati terumbu-terumbumu
.t.i.g.a.
Malam Milikmu
Malam tenggelam menyelamMenyimak setiap babakKepunyaan hidupSibuk sungguhHampir tak ada lagi jedaUntuk selain sibukSemoga malam milikmu tak sama begitu
Maghribku Bersama Sajadah
Mentari sudah menepi ke arah maghribHati pun mulai senja oleh prahara yang enggan raibKutinggalkan geliat sisa sinar yang merangkak ke garis malamSaat tubuh angkuh lesu terbelenggu tarian kekhilafanTiba aku di alir air yang membasuh segala nafsuMenitik pula kesejukan, leburkan debu kalbu membatu
Kugelar sajadah, kupapar fatihah, kupijar doaBiarkan syaraf dan nadiku denyutkan asmaNyaTurutkan nafas dan birahiku sebutkan ayatNya
Sebelum maghrib berlalu menjadi malamDosa kian telanjang berjalan mencari ampunanDi balik kerudung panjang dan sajadah membentangKucium sajadah, kutersungkur di sajadah, bersama harapan.
PINTUMU
Kuketuk pintumu lewat bias dan bisu"adakah bisa kutemui kau?"Pintumu hanya diam, beku menjawab: tak tahu
Aku masih di luar, dalam liarnya tungguDan berteriak lewat kalbu syahduMelambaikan raguAdakah dinding dingin di balik pintuMemisah dan tak tertempuh?
Beranda, jangan sampai rentaKarena pintu tak jua terbukaDan kau yang kudamba datang berkemejaMengulum senyum dari pojok jendela
Dua Buah, Tercurah..
# Tak Lucu,Aku yang memegang kendaliNamun kau yang memutar haluanPun tak lucu,Aku turut sajaHingga ke tepian
# Ruhmu masih berkubangDi lumpur terdalam di hatikuEntah di hatinya bagaimana
Ruhmu masih bergelantunganDi setiap jejala dalam ruang cintakuEntah, cintanya bagaimana
Ruhmu masih tetap menemaniSetiap penghujung malamkuMengucap “selamat tidur”Lalu mengecup keningkuSebelum mataku terpejamEntah, malam-malamnya bagaimana
Ruhmu, hingga kini dan nantiMasih hidup sebagai suluh semangatUntuk sebuah perjuangan hidupEntah, baginya bagaimana
Terlalu Panjang..
Terlalu panjang kisah ini untuk kuceritakanKetika kau dan aku tak saling bertatapanDan tak sempat tuk saling bertuturanMasa itu adalah butaAku tak melihat di mana jalan tuk menemuimuHanya ada gelap di sanaBersama deras hujan yang sesekaliMenghadirkan kilat, lalu petirSungguh getir..Kau tentu tak tahuBagaimana diriku saat ituSaat seramnya kegelapanDan gigilku dalam kedinginanAh..Terlalu panjang tuk kuceritakan.
[hey, kau!!!]
hey, kau..!!!di gigilku, selalu kau janji-janji selimutmu.di gerahku, kerap kau iming-imingi sejukmu.hey, kau..!!!di tangisku, sering kau di tawaku, pasti kau sanjung puji geligiku. hey, kau..!!!di mana deringanmuketika ponselku tak bernada bersuara?hey, kau..!!!rembulan pun bosan menemanikubintang juga malas memandangikusementara kau tak memberikupertanda tentang kapan datangmu hey, kau..!!!tahulah bahwa aku wanitayang paling berharap untuk kautemui, walau di mimpiku saja.tak apa.[dariku yang memanggilmu dengan sebutan kau
Sajak Perselingkuhan
~Selingkuhanku Bernama Senja~Senja yang beberapa Maghrib kuselingkuhiSelalu tak mampu begitu lama memelukkuIa memikat terlalu lekat,Namun siluetnya berubah pekatDitenggelamkan kelammalam Dalam sekejapWalau senja tak pernah berjanjiUntuk kembaliNaluri rindu menunggu selaluDi antara pukul lima-enamSenja yang datangTak pernah sampai satu pukulSelalu membuatku nikmatDalam cumbu selingkuhAh,Senja tak pernah seganTinggalkan sisa belaianLewat angin buritannyaKemudian,Sendiriku dimulai lagiDi pukul tujuhSudah bosan dengan malamYang terlalu diamSudah gerah dengan siangYang terlalu garangDalam sendiri,Tetap menantiSenja kembaliSelingkuh lagi
Rasa #1
Kalut..Riuh dan senyap tak lagi peka di telinga.Gelap dan terang tak mampu di tangkap mata.Murka dan cinta adalah garis yang tak berjarak.Sungguh kalut.Rasa
#2…
airmataRasa
#3Mata
yang berkaca-kaca akhirnya pecahmenjadi serpihan-serpihan tangis.Muaranya adalah kesedihan.
Rasa #4
Duka kali ini karena cemburumu.Cemburu pada waktu dan jarak.Pada sibuk yang membuai kita.Cemburumu hampir tak pernah lagi.Kurasakan sebagai tiupan cinta.Tapi kini, kerinduankuuntuk cemburumu adalahDuka.
di post dari Ndi menulis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar